Kamis, 01 Maret 2012

Pembunuhan di Teluk Pixy - Agatha Christie


Judul: Evil Under the Sun (a Hercule Poirot Mystery)
Judul Indonesia: Pembunuhan di Teluk Pixy
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Joyce K. Isa
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792232691
Terbit: 1985
Cetakan kelima: November 2007

Sinopsis:
Arlena Marshall yang bertubuh menggiurkan, berwajah cantik, dan berambut merah tebal tampak sangat mencolok di antara para penghuni Hotel Jolly Roger di Pulau Penyelundup.
Beberapa hari kemudian ia ditemukan tewas tercekik di salah satu pantai pulau itu.
Siapakah yang telah membunuh Arlena si perayu?
Apakah Suaminya yang angkuh dan pendiam, yang mengetahui istrinya telah berzinah?
Ataukah anak tirinya yang aneh, yang membuat boneka lilin berwajah Arlena dan menancapinya dengan peniti?
Ataukah si fanatik agama yang batinnya tersiksa karena kecantikan Arlena?
Atau si pemuda tampan yang mencintainya dengan begitu terang-terangan?
Atau, barangkali, salah satu wanita yang mempunyai—atau mengira mempunyai—alasan untuk menghendaki kematian Arlen?
Hercule Poirot, yang sedang berlibur di tempat terjadinya tragedy ini, bersedia mengorbankan liburannya untuk mencoba mengungkap kasus yang membingungkan ini.

Review:
Yang tercetus dari benakku ketika membaca ini adalah apakah memang profesi detektif itu memicu timbulnya tragedi? Aku jadi teringat pada Kogoro Mouri dari komik seri Detektif Conan, yang kehadirannya selalu berkebetulan dengan suatu kejadian.

Di buku Agatha Christie kali ini, Hercule Poirot kebetulan sedang berlibur di suatu pulau, yang letaknya agak ke tengah Teluk Leathercombe, di sebuah hotel yang bernama Hotel Jolly Roger.

Di hotel itu ada beberapa tamu yang juga sedang berlibur di sana. Ada Suami-Istri Gardener yang berasal dari Amerika. Ada seorang wanita yang berprofesi sebagai penjahit busana terkenal bernama Rosamund Darnley. Ada seorang perawan tua bernama Emily Brewster. Ada seorang pensiunan tentara bernama Mayor Barry. Ada seorang pendeta fanatik bernama Stephen Lane. Ada orang kaya yang mencolok bernama Horace Blatt. Juga ada Suami-Istri Redfern yang masih muda. Dan yang terakhir keluarga Marshal: Kenneth, istirnya Arlena dan Linda, putrinya.

Ada satu buah bibir di antara para tamu itu. Patrick Redfern, suami dari Christine Redfern dikabarkan mempunyai hubungan gelap dengan Arlena Marshall, wanita cantik yang mencuri perhatian banyak pria di sana. Walaupun Arlena sudah menikah dengan Kenneth, tapi sikapnya yang perayu itu tidak repot-repot ia tutupi. Oleh karena itu, semua tamu wanita di sana tidak menyukai Arlena, terlebih karena sikapnya yang agak tidak pantas itu. Semua orang memandangnya sebagai wanita jahat dan berbahaya, yang siap menjerat pria mana saja yang tertarik padanya dan mematahkan hati wanita mana saja yang dicampakkan pria yang terpikat padanya.


Suatu hari Arlena ditemukan tewas tercekik. Tak ada satu pun dari tamu-tamu di sana yang memiliki waktu yang cocok dengan waktu kejadian. Namun para tamu itu memiliki motif untuk bisa melakukan tindak kejahatan tersebut.

Hanya saja, dipastikan oleh tim penyidik bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah seorang laki-laki, dilihat dari jejak cengkeraman di leher Arlena.

Hanya ada beberapa tamu laki-laki di sana yang bisa dijadikan tertuduh. Hercule Poirot sendiri, Kenneth Marshall (sang suami), Patrick Redfern (yang memiliki hubungan khusus dengan Arlena), Horace Blatt, Mayor Barry, Pendeta Stephen Lane dan Mr. Gardener.

Sayangnya waktu pembunuhan diperkirakan pukul 10.45, dan di jam sekitar itu beberapa tamu dipastikan lolos dari tuduhan lantaran mereka berada di pantai sedang berjemur dengan yang lain-lainnya, termasuk Poirot sendiri. Hanya ada beberapa pria yang tidak ada di tempat pada saat itu, Kenneth Marshall, Pendeta Stephen Lane, Horace Blatt, dan Mayor Barry.

Dari sini, polisi dan detektif Poirot sendiri mencurigai Kenneth Marshall sang suami, karena selain jamnya pas, sang suami juga memiliki motif yang diduga bisa menjadi pemicu melakukan pembunuhan tersebut. Namun bukan Poirot namanya kalau dia tidak bisa melihat apa-apa yang janggal. Dia tidak bisa langsung menuduh seseorang tanpa adanya bukti yang kuat. Maka dengan kecerdikannya dia mencoba cara yang paling mudah untuk menguatkan kecurigaannya… apakah itu? Piknik! ;D

Aku tidak bisa menulis semua isi cerita, karena takut spoiler. Hanya saja ketika membaca ini, Madam Agatha Christie piawai sekali dalam menjungkirbalikkan otak kita. Setiap pendapat yang dikemukakan para penyidik dan sang detektif sendiri bikin aku termanggut-manggut dan ikutan setuju. Tapi ketika mereka kembali menarik kecurigaan itu aku jadi gemes-gemes pengen banting buku. Sampai akhirnya kasus ini diungkap sendiri oleh Poirot, aku tersenyum puasssss. :D

Tiga bintang dari aku karena sudah  bikin aku dagdigdug tengah malam.
Dan sebenarnya ini posting review bersama, tapi kemarin lupa, dan pas mau bikin reviewnya jadi pusing sendiri… ternyata waktu yang tepat membuat review adalah malam-malam, bukan pagi. Hehehe…

Ada satu kalimat dari Hercule Poirot tentang perbedaan wanita semacam Christine Redfern dan wanita semacam Arlena Marshall.
Dia pendiam, cantik secara pasif. Saya kira dia amat setia kepada suaminya. Dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Arlena Marshall. || Apa itu? || Otak. – halaman 111

5 komentar :

  1. Poirot memang sangat bangga dengan otaknya :D

    BalasHapus
  2. @Mas Tezar: hiks... aku lupa nulisnyaaa...

    @Nannianest: betull.... dan aku suka banget sama tokoh poirot ini. Madam Agatha emang keren deh bikin tokoh detektif poirot :D

    BalasHapus
  3. Jiahh haha, lucu percakapan penutup reviewnya Mer :) Coba baca Tirai deh itu karakternya Poirot sangat membekas di hati *tsah*

    BalasHapus
  4. @Kak Mia: hehehe... lucu dan bagus... sebenarnya banyak kalimat2 yang seperti itu dari Poirot di buku ini. Cuma aku ga tulis semua. ;D

    Cari ah yang Tirai... penasaran

    BalasHapus