Senin, 25 Juni 2012

The Shadows - Jacqueline West



Judul: The shadows (The Books of Elsewhere)
Penulis: Jacqueline West
Penerjemah: Nur Aini
Proofreader: Tisa Anggriani
Cover: Jennifer Kelly
ISBN: 978-602-9159-88-2
Penerbit: Ufuk Fiction

Pertama kali tertarik buku ini pas lihat cover-nya di Facebook penerbit Ufuk Fiction. Dari cover-nya sudah kelihatan ini buku anak-anak, dan saya sebagai anak-anak abadi (keselek) merasa wajib punya buku ini.
Dan syukurlah belinya pas ada book fair, jadi dapat diskon deh. ^^

Ceritanya tentang anak perempuan berusia 11 tahun bernama Olive Dunwoody. Dia dan keluarganya baru saja pindah ke sebuah rumah tua bergaya zaman Victoria. Rumah itu tadinya ditempati oleh perempuan tua bernama Ms. McMartin bersama ketiga ekor kucingnya, setelah semeninggalnya perempuan itu dan karena dia tak punya sanak saudara, rumah itu pun akhirnya dijual.  Namun karena orangtua Olive terlanjur jatuh cinta dengan keotentikan rumah tersebut, mereka pun membeli rumah itu tanpa menyingkirkan perabotan yang ada di dalamnya. Termasuk lukisan-lukisan yang terpajang hampir di seluruh penjuru rumah.

Layaknya anak-anak, Olive yang dirundung kebosanan karena sekolah belum dimulai akhirnya pun menjelajahi rumah. Dan ketika sedang berusaha mengamati lukisan-lukisan di rumah, Olive yakin bahwa dia melihat sosok putih berlari ketakutan di dalam salah satu lukisan itu. Tapi sejenak kemudian sosok itu melenyap.

Suatu hari di tengah-tengah kegiatan menjelajahnya, Olive menemukan sebuah kacamata di salah satu kamar di rumahnya. Dengan menggunakan kacamata itu, Olive kembali mengamati lukisan-lukisan tersebut. Yang membuatnya mengejutkan, semua lukisan itu bergerak. Dan ajaibnya, Olive bisa masuk ke dalam lukisan-lukisan tersebut; menembus kertas kanvasnya, cat-catnya, dan sekonyong-konyong menjadi satu dengan dunia di dalam lukisan, Elsewhere: dunia lain. Dari sinilah petualangan Olive dimulai. 



Selasa, 05 Juni 2012

The Healing Wars I: The Shifter - Janice Hardy



Kembali lagi ke fantasi murni. Di sini tak ada werewolf, peri, bahkan vampir. Tokohnya remaja, tapi sama sekali tak ada kisah cinta kawula muda.

Nya, lima belas tahun, mesti bekerja keras demi bisa makan, sementara adiknya, Tali, hidup enak di Healers’ League—akademi khusus penyembuh. Nya tak bisa dapat keistimewan serupa, karena Nya bukan Healer walau sesungguhnya bakat itu mengalir dalam keluarga; Grannyma dan Mama bahkan merupakan Healer terkemuka sebelum terjadinya perang yang akhirnya merenggut nyawa mereka.




Para Healer di sini gunanya buat menyembuhkan rasa sakit. Dari memar kecil, hingga patah tulang. Mereka itu kayak dokter tanpa obat. Satu-satunya yang menjadi keunggulan adalah, Healer menarik rasa sakit lalu memasukkannya ke dalam sebuah benda berbentuk tongkat, bernama pynvium. Orang-orang yang bisa menarik rasa sakit itu disebut Taker.

Nya adalah Taker, tapi bukan Healer. Dia bisa menarik rasa sakit, tapi tak bisa merasakan pynvium dan mendorong rasa sakit ke dalam benda tersebut. Alih-alih, Nya bisa mendorong rasa sakit yang ditariknya itu ke dalam tubuh orang lain. Itulah yang membuatnya tak bisa masuk League. Bukannya League menolak dia, tapi kemampuan seperti yang dimiliki Nya ini dianggap tidak normal dan berbahaya. Konon, para Taker tidak normal ini dijadikan senjata oleh sang Duke yang memimpin Three Territories.




Jumat, 01 Juni 2012

The Lonely Hearts Club - Elizabeth Eulberg




Dari semua buku Elizabeth Eulberg, aku paling suka yang ini. Kenapa? Soalnya nuansa The Beatles-nya kental banget. Terbukti deh sama judulnya The Lonely Hearts Club, kayak judul album kesembilan The Beatles Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band, yang di dalamnya ada lagu Lucy in the Sky with Diamond (lagu favoritku!)

Tokohnya bernama Penny Lane, punya kakak namanya Lucy dan Rita,
sudah ketebak dong kalau orangtua mereka pastinya fans berat The Beatles. Bikin iri banget deh...

Tapi inti buku ini bukan tentang The Beatles.

Penny merasa muak disakiti cowok. Nate, cowok pujaannya dari kecil yang kebetulan anak dari sobat karib orangtuanya, dan yang juga selalu diimpi-impikannya akan menjadi The One-nya, ternyata hanya cowok badung yang bajingan. Nate tega-teganya bawa cewek ke rumah Penny dan bermesraan di sana, padahal mereka berjanji kalau malam itu adalah malam mereka. Setelah kejadian itu, hati Penny hancur berkeping-keping. Dia bertekad tak akan ada lagi cowok sampai dia lulus SMA. Temannya, Tracy, menganggap dia gila, karena ya ampun SMA tanpa cowok? Yang benar saja.

Tapi menurut Penny cowok itu cuma jadi masalah. Dulu Penny pernah dicampakkan sahabatnya dari kecil, Diana. Karena Diana punya cowok dan bergabung dengan murid-murid populer di sekolah. Selain itu, menurut Penny cowok tuh pikirannya cuma seks seks seks, sama sekali tak memikirkan perasaan cewek-cewek, dan setelahnya apa? Mereka membuang saja gitu cewek-cewek yang mereka pacari.

Dan karena insiden bersama Nate itu, Penny akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah klub. Namanya, The Lonely Heart Club. Anggotanya? Ya, dia sendirian.
  
Suatu hari, anggota klub bertambah. Tak disangka-sangka, anggota tambahan tersebut adalah Diana. Sahabatnya waktu kecil, yang mencampakkannya demi Ryan, dan sekarang malah mau bergabung dengan klub karena dia sudah putus dengan Ryan (nyebelin ya). Tapi karena Penny baik hati, jadi mengapa tidak memberikan kesempatan kedua untuk Diana berteman. :D

Hari demi hari, anggota klub bertambah. Semakin banyak cewek-cewek di sekolah yang merasa mereka disakiti cowok ikut dalam klub Penny. Klub itu pun menjadi klub terkenal di sekolah. Sayangnya, klub Penny menuai protes dari banyak pihak, termasuk kepsek. Dan ketika orangtua Penny dipanggil, mereka malah marah kepada kepsek karena klub ini berniat positif. Selanjutnya mereka malah terus mendukung kegiatan klub tersebut.  Yuhuuu keren ya orangtua Penny!

Semua berjalan lancar, sampai Ryan, cowok keren di sekolah yang juga mantan Diana mulai pdkt sama Penny. Karena Penny adalah ketua dan pendiri The Lonely Hearts Club, tak mungkin kan dia melanggar peraturannya sendiri. Sementara anggota klub semakin erat, mereka berbagi masalah, berbagi kebahagiaan, dan saling mendukung dalam berbagai hal (paling keren pas menggalang dana untuk tim basket putri). Tapi entah kenapa setiap Ryan mendekat, hati Penny selalu berdesir. Semakin lama semakin Penny tak bisa menyangkal kalau dia pun suka sama Ryan. Apa yang akan Penny lakukan? Akankah Penny tetap berpegang teguh pada keyakinannya atau malah luluh dengan perasaannya? Galau banget deh.

Wohoooo aku sukaaaa bangeeet buku ini.
Ringan banget untuk dibaca di waktu senggang. Covernya lucu. Ilustrasinya unyu. Dan terjemahannya asyik, gaya bahasanya santai banget, layaknya teenlit.

Btw adegan paling romantis pas Ryan dengan pedenya nyanyi lagu Penny Lane... hahaha padahal suaranya suambang dan kepeleset nada terus ;D

4 bintang untuk Penny. 

Penerbit: Bentang Belia
Penerjemah: Rini Nurul Badariah

Room - Emma Donoghue



Buku ini diceritakan dari sudut pandang anak berumur lima tahun, Jack.

Bagi Jack, Room adalah dunianya. Dia tinggal di Room bersama Ma. Mereka hanya berteman dengan TV, Wardrobe, Rug, Table, Roof, Watch dan berbagai benda lainnya yang berada di Room. Outside bagi Jack tidak ada. Setiap dia menatap ke luar, dia hanya melihat Skylight yang tak ada ujungnya. Makhluk hidup dan benda-benda lain yang dilihat Jack hanya ada di dalam TV, dan mereka semua tidak nyata. Namun sesekali, Jack bertemu dengan Ant, Spider, dan bahkan Mouse. Sayangnya, Ma tidak suka dengan mereka, karena menurut Ma mereka membawa kuman penyakit. Jack selalu menangis setiap kali Ma mengusir mereka.

Setiap Minggu mereka selalu dapat persediaan makanan baru. Kadang juga pakaian baru. Asyiknya, mereka bisa menulis wishlist benda-benda yang mereka inginkan. Semua akan dikabulkan oleh Old Nick.

Jack fans sejati Dora. Setiap kalau ada Dora dia selalu setia di depan TV. Dia juga Spongebob. Kesehariannya selalu dijalani dengan bangun pagi, sarapan, mandi, main sama Ma. Baginya itu dunianya, dan dia tak pernah merasa bosan.

Saat malam tiba, Jack harus tidur di Wardrobe, kalau-kalau Old Nick datang. Namun setelahnya, ketika pagi tiba, Jack selalu terbangun di atas tempat tidur. Kemudian melakukan rutinitas yang sama seperti sebelumnya.

Suatu hari segalanya berubah. Old Nick marah dan mematikan listrik di Room. Selama tiga hari Ma dan Jack hidup tanpa listrik dan pemanas ruangan. Mereka nyaris mati kedinginan. Dan hal tersebut membangkitkan keinginan Ma untuk keluar dari Room. Jack sebaliknya, dia merasa Ma bersikap aneh, karena Outside itu tak ada, Outside itu tidak nyata, Ma selalu bilang begitu. Tapi Ma terus bertekad bahwa mereka harus keluar. Mereka menyusun rencana untuk menipu Old Nick. Dan Jack harus berperan sebagai sang pemberani untuk menolong mereka keluar dari Room.

Suka banget suka banget suka banget buku ini...
Sebelum membaca buku ini, aku membaca sekilas-sekilas review teman-teman. Bahkan aku tak baca sinopsisnya. Jadi ketika baca aku sempat menebak-nebak, ini Room apa sih? Sel penjarakah? Namun pas Old Nick keluar aku baru ngeeeeh *dasar lola* :P