Senin, 03 Juni 2013

Revenge of the Girl with the Great Personality


Hi, long time no see. Parahnya T_T
Blog ini jadi terbengkalai.

Sekarang, mumpung lagi bersemangat nulis review (yang sebenarnya ga bisa-bisa juga dari dulu), jadi pengin nulis review salah satu buku yang kubaca tahun ini dan yang *uhuk* kuterjemahkan.
Judulnya Revenge of the Girl with the Great Personality. Panjang banget ya ;D






Buku ini karangan Elizabeth Eulberg kedua yang kuterjemahkan, dan yang keempat yang kubaca. Sewaktu diminta nerjemahin buku ini padahal bukunya belum terbit, aku langsung mengiyakan. Soalnya aku suka sama tiga buku Eulberg yang sebelumnya.

Jadi setelah di The Lonely Hearts Club kita ketemu Penny Lane dan klub jomlonya, di Prom &Prejudice ada Elizabeth dan Darcy yang merupakan cerita dengan kemasan ulang karya klasik Jane Austen, serta Take a Bow dengan latar sekolah musik dan seluk-beluk intriknya, di Revenge of the Girl with the Great Personality (fiuhh, ngetiknya capek ;D) kita ketemu Lexi, gadis dari keluarga broken home.





Aku suka banget karakter Lexi. Nama panjangnya Alexis Anderson. Lexi adalah gadis yang sedang-sedang saja. Di dalam keluarganya pun dia tidak dianggap cantik, sebab ibunya lebih menganggap Mac adiknya yang baru berusia tujuh tahun dan merupakan putri kecantikanlah yang cantik. Jujur saja, sebelum baca buku ini, aku tidak tahu ada yang namanya beauty queen berusia segitu, ternyataaa. Astaga!!! Coba bayangkan anak kecil yang seharusnya berlari-larian di taman kanak-kanak, dari pagi sudah mesti didandani, rambut ditarik-tarik. Duh!

Lexi lebih dikenal sebagai gadis dengan kepribadian yang mengagumkan, dan dia sih oke-oke saja. Sebab menurutnya itu lebih baik dibandingkan seperti gadis lain di sekolahnya yang, tidak punya kepribadian sama sekali. Lexi punya dua sahabat, Ben dan Cameron. Ben, cowok gay yang minderan, sedangkan Cam cewek pintar yang cantik namun lebih suka berada di bawah radar ketenaran.

Namun suatu hari, ketika sedang di foodcourt bersama kedua sahabatnya, Ben kena bully orang tak dikenal. Hal ini membuat Lexi berang, kenapa Ben diam saja dijahatin? Kenapa Ben diam saja ada yang mengejeknya? Atas hal inilah, Lexi akan bikin perhitungan dengan Ben. Dia ingin Ben lebih percaya diri, memandang diri sendiri dengan lebih baik. Ternyata, Ben juga punya pendapat yang sama mengenai Lexi. Jadi demi mengangkat kepercayaan diri Ben, Lexi harus menerima tantangan makeover dari Ben.

Itu hal yang tidak sulit sebenarnya, secara Lexi selalu dikelilingi penata rias dan busana di kontes kecantikan Mac. Jadi dengan sedikit bantuan, Lexi pun berubah. Jadi lebih menonjol ketimbang sebelumnya.

Dan, dengan makeover ini hidup Lexi berubah 180 derajat. Semua orang jadi memperhatikan dirinya. Semua orang ingin menjadi dia. Malahan, Lexi jadi punya pacar ganteng dan populer bernama Taylor. Walau sebenarnya hati Lexi dari dulu hanya untuk Logan, tapi Taylor yang pertama mengajaknya kencan. Dan kesempatan itu takkan disia-siakan Lexi.

Namun sayang, dengan datangnya kepopuleran, datang pula lubang menganga yang semakin melebar di kehidupannya. Banyak teman-teman palsu yang beramah-tamah dengannya. Banyak perharian palsu yang didapatnya. Apa itu setimpal dengan apa yang dikorbankannya?

Dandan dari pagi hanya demi tampil cantik? Menghabiskan tabungan untuk fesyen demi bisa masuk lingkup pertemanan populer?

Konflik yang diangkat Elizabeth Eulberg kali ini bisa dibilang sama seperti konflik buku remaja lainnya. Mengangkat remaja minder yang akhirnya bisa menyusup ke kelompok populer. Tapi yang paling kusuka dari buku ini adalah bagaimana Lexi sebagai gadis berkeperibadian mengagumkan mengalahkan persepsi ibunya mengenai dia.

Coba bayangkan seperti apa rasanya jika kita dianggap tidak cantik oleh orangtua kita sendiri? Bayangkan bagaimana rasanya kita diremehkan ibu sendiri? Ya apa pun yang kita hadapi, seburuk apa pun mereka, orangtua kita tetaplah orangtua kita. Itu satu pesan yang Lexi sampaikan pada kita.




2 komentar :

  1. hore! akan ada bukunya Elizabeth Eulberg yg baru, lagi mau baca The Lonely Heart sama Prom and Prejudice, sejak baca Take a Bow jadi suka sama tulisannya EE, ditunggu terjemahannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. asik ada yang nungguin. hihi. semoga ga lama. sudah disetor dari awal bulan kemarin. tungguin ya. hihi

      Hapus