Sabtu, 07 Desember 2013

Pangeran Palsu



Empat anak laki-laki diculik. Empat anak yang penampilannya amat sangat mirip. 

Sage, salah satu di antara mereka, membongkar fakta di balik penculikan itu—bahwa ada yang akan dipilih untuk berperan menjadi pangeran yang hilang—ia tahu bahaya sekarang menghadang.

Sage sadar hanya ada satu cara upaya ia bisa bertahan dalam permainan penuh kebohongan dan kelicikan ini. 

Ia harus menjadi sang pangeran… atau ia akan dibunuh.





Ada suatu tempat bernama Carthya, letaknya berada di tengah-tengah tiga kerajaan lain; Gelyn, Avenia, dan Mendenwal. Carthya dipimpin oleh Raja Eckbert, dengan istrinya yang bernama Ratu Erin. Mereka mempunyai dua orang putra. Darius, sang Putra Mahkota, dan Jaron, sang pangeran.

Raja Eckbert dikenal sebagai penguasa yang polos dan lembek, yang lebih memilih kedamaian ketimbang perang, yang memilih bungkam daripada memicu konflik. Walau demikian, pemberontakan-pemberontakan tetap terjadi, salah satunya mereka yang tamak akan kekuasaan dalam dewan negara. Pemberontakan tersebut berimbas dengan kematian Raja, Ratu, dan Putra Mahkota. Sedangkan Pangeran Jaron telah meninggal empat tahun lalu, dibunuh bajak laut yang menyerang kapal yang membawanya ke negeri lain. Namun dalam kejadian ini jasad Pangeran Jaron tidak ditemukan.






Tanpa penguasa yang sah. Tanpa adanya anggota kerajaan yang masih hidup, Carthya di ujung timbulnya perang saudara. Conner, salah satu bangsawan dalam regen negara mendapat gagasan lain untuk menghindari perang dan jatuhnya kekuasaan pada rezim yang keji. Diam-diam dia mencari beberapa anak berusia 15 belas tahun yang ciri-cirinya mirip dengan Pangeran Jaron yang hilang. Masihkah ada harapan bahwa Pangeran Jaron masih hidup? Masihkah ada harapan Carthya akan damai?

---

Sage, bersama 3 anak yatim piatu lain, dibeli oleh Conner dari panti asuhan. Mereka dibawa demi mencapai tujuan Conner untuk menjadikan mereka Pangeran Jaron. Demi membawa Carthya kembali damai, Conner menghalalkan berbagai cara termasuk mendidik anak-anak yatim piatu itu sebagai seorang gentleman yang pantas untuk dianggap sebagai Pangeran. Mereka diajari baca tulis, dilatih berkuda dan berpedang, serta tata krama yang seharusnya sebagai keluarga kerajaan. Namun sayangnya, waktu mereka terbatas. Desas-desus mengenai kematian keluarga kerajaan telah menyebar, dan dewan negara akan segera mendesak pengangkatan raja yang baru dalam dua minggu. 

Sage, sama sekali tidak tertarik menjadi pangeran, dia hanya yatim piatu tak berpendidikan dan tukang cari gara-gara, dia berlidah tajam dan memiliki naluri yang selalu menentang perintah orang, semua itu tak membantunya apa-apa selain mendapatkan kesulitan besar. Dari awal, dia sudah berencana melarikan diri. Tapi konsekuensinya, dia akan dibunuh begitu tertangkap. Sayangnya, satu-satunya cara agar dia selamat juga adalah dengan menjadi pangeran, sebab Conner telah menegaskan bahwa pilihan lain untuk mereka yang tersisa adalah kematian, agar rahasia rencana itu tetap terjaga. Dengan sifatnya dan keterbatasannya, sanggupkah Sage?
---

Ini buku ketigaku tahun ini yang mengangkat intrik kerajaan setelah Fire dan Queen of Tearling. Tapi jelas ini yang paling kusuka. Karakter Sage yang sinis dan blakblakan dan susah diatur menarik perhatianku, dan sedikit mengingatkanku pada Bartimaeus si Jin dalam Bartimaeus Trilogy. Bikin gemas dan cekikikan.

Di antara saingan-saingannya, Tobias dan Roden, Sage jauh ketinggalan karena dia sama sekali tidak menunjukkan minat menjadi pangeran. Dia tidak menyimak dalam pelajaran membaca, dia bersikap sok pintar dalam pelajaran berkuda, dan dalam berpedang juga dia sama sekali tidak mahir. Walau begitu, dia yang menunjukkan sifat manusiawi dan lebih cerdas berpikir ke depan dibandingkan yang lain. Buat dia toh kematian tetap menunggu mereka seandainya tertangkap sebagai pengkhianat kerajaan dengan memalsukan identitas pangeran, seandainya pangeran yang asli muncul tiba-tiba.

392 halaman tebalnya buku ini, walau awalnya aku merasa alurnya lambat, tapi gaya tulis dan cerita pengarangnya tetap membuatku terlarut menikmatinya. Di pertengahan buku dan waktu yang semakin dekat, Sage tetap ngebandel tidak mau menuruti Conner, bikin semakin geregetan membacanya. Apakah itu taktiknya agar menang? Atau taktiknya agar Conner menyerah terhadapnya dan melepasnya begitu saja? Entah yang mana, tapi dalam hati, aku berharap dia yang dipilih Conner sebagai Jaron. Apalagi setelah lukisan Jaron dipamerkan, dan sosoknya sangat mirip dengan Sage.

Sedangkan Jaron sendiri, aku malah susah banget mengingat namanya. Kadang yang kuingat dibenakku malah nama Johan, Jeevan, atau Jordan. Nama yang sederhana kayak Jaron, agak aneh buat nama pangeran menurutku, bagusan sama Sage. Pangeran Jaron sendiri digambarkan sebagai pangeran yang bersifat membangkang, mahir berpedang dan berkuda, dan tidak takut apa pun. Dan anak-anak yatim piatu itu diminta untuk meniru sosoknya. Uh uh Sage punya keunggulan di situ, kan?

Buku ini sangat layak dibaca dan dikoleksi (tentu saja), cukup tiga hari saja aku melahapnya, 1 hari 20 halaman pertama, 1 hari 20 halaman kedua, 1 hari sisanya sampai habis. Dan aku puas dengan eksekusi ceritanya. Resmi sudah buku ini menjadi salah satu favoritku.

Terjemahannya juga enak banget dibaca, walau ada beberapa typo yang menggelisahkan, tapi saat ini aku tidak repot-repot senewen, karena cukup terobati dengan kebandelan-kebandelan Sage yang bikin aku kepingin getok-getok kepalanya.

Tapi buku ini bukan fantasi, jadi jangan harap menemukan sihir-sihir atau makhluk-makhluk lain dari dunia seberang. Buku ini juga bukan romens yang menyuguhkan cinta, tapi jelas memang ada cinta yang diukir di dalamnya; cinta terhadap manusia, baik lawan atau kawan, kaya atau miskin, atasan atau bawahan. Tak usah berharap apa-apa saat membacanya, mengalir saja sampai menemukan kejutan-kejutan atas kecerdikan Sage. Buku ini murni fiksi dengan intrik politik biasa yang dikemas dengan narasi indah dan tokoh cerdik yang asyik.

5 bintang untuk cerita memukau di penghujung tahun ini.
Dan ternyata, buku ini ada tiga seri. Pangeran Palsu ini seri pertamanya.
Semoga Gramedia cepat-cepat menerbitkan buku keduanya....


False Prince (Pangeran Palsu)
Jennifer A. Nielsen
Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I: 2013

Tidak ada komentar :

Posting Komentar