Senin, 01 September 2014

Jantung ke Jantung











Heart to Heart dan saya diperkenalkan pertama kali tahun lalu, 2013. Walau dengan penulisnya sendiri, saya sudah kenal jauh sebelumnya ketika melahap Don't Die My Love. Itu juga karena teman seperjuangan saya menerjemahkan bukunya. Kalau ga, mana mungkin saya lirik-lirik. Hehehe.

Bedanya dari Don't Die My Love yang ceritanya manis dan penuh kemesraan ala remaja, walau ujung-ujungnya sedih juga dan butuh tisu (meski ga banyak-banyak amat), di Heart to Heart ini kita diperkenalkan dengan persahabatan Elowyn dan Kassey. Dan di akhir, ada Arabeth juga.

Elowyn Eden dan aku bersahabat.

Itulah kalimat pembukanya. Dan jujur saja, satu kalimat itu yang justru menarik saya. Waktu itu saya memang kebagian menerjemahkan buku ini, tapi di tengah-tengah menerjemahkan, saya juga bersyukur karena dapatnya yang tema persahabatan. Bayangin saja, hampir beberapa buku yang saya baca saat itu romansa melulu, jadi ketika dikasih buku tema sahabat, sedih pula, jadi kayak ada angin segar yang menerpa. *ceilah* ;D

Buku ini dibagi dua bagian. Saya jabarkan satu-satu ya.

Bagian satu tentang Kessey dan Elowyn. 

Elowyn dan Kessey bersahabat sejak SMP, pertama kali ketemunya di rumah sakit, saat masing-masing dirawat karena mengalami patah tulang. Mereka sama-sama anak semata wayang. Perbedaan besarnya adalah Elowyn hidup di tengah keluarga harmonis dan cukup berada, sedangkan Kassey terlahir dari keluarga broken home.

Persahabatan mereka semakin erat seiring berjalannya waktu hingga mereka memasuki bangku SMA. Mereka juga masuk tim voli andalan, dan dikenal sebagai dinamik duo, lantaran kehebatan mereka di lapangan.

Namun persahabatan mereka meretak ketika Elowyn punya pacar. Namanya Wyatt. Hubungan Elowyn dan Wyatt ini digambarkan sering putus nyambung. Alasannya bisa karena macam-macam. Dari jadwal latihan yang bentrok, dan Elowyn yang merasa Wyatt lebih suka ngumpul bareng teman-temannya ketimbang dia (masalah cewek banget deh!). Tapi yang menjadi puncaknya adalah setelah ulang tahun Elowyn yang keenam belas. Saat itu Elowyn sudah punya mobil, hadiah dari ayahnya, dan sehabis memergoki Wyatt lagi sama cewek lain, dia ngambek dan pergi jauh-jauh sampai ke jalan antar negara bagian. Kassey-lah yang selalu diteleponnya begitu mereka bertengkar. Tapi saat itu malam diguyur hujan deras.  Cuaca yang tidak mendukung itu mengakibatkan Elowyn mengalami kecelakaan mobil.

Dia terbaring koma. Tubuhnya lumpuh dan tidak merespons. Kassey remuk redam. Segala yang ditahu bersama Elowyn lenyap. Kenangannnya. Rahasianya. Tapi ada satu yang ga Kassey tahu: Elowyn mencentang kotak donor di bagian belakang SIM-nya.


Bagian dua: Arabeth.

Arabeth tinggal bersama ibunya. Ayahnya meninggal ketika bertugas di Afganistan. Sejak kecil Arabeth memiliki jantung yang lemah, sehingga harus dioperasi, namun sampai saat ini dia belum mendapatkannya. Penyakitnya ini membuatnya terisolasi. Dia tidak punya teman. Tidak bisa berkegiatan di luar rumah. Tidak boleh kelelahan.

Usianya 15 saat itu, rumah sakit menelepon, memberitahunya bahwa ada jantung sehat yang siap untuknya. Jantung Elowyn.

Operasinya berhasil. Arabeth sehat kembali. Namun ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ketika ibunya bertanya tentang dekorasi kamar, Arabeth tiba-tiba mencetuskan ingin dekorasi Prancis. Rasa es krim favoritnya juga berubah. Dan ada dorongan-dorongan ganjil yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. Dorongan-dorongan itu memuncak ketika Arabeth bertemu dengan Kassey.

Tapi sebelumnya kembali sejenak ke halaman depan. Di catatan penulis, Lurlene McDaniel memberitahu mengenai fenomena yang dinamakan ‘ingatan selular.’ Ini adalah istilah di mana resipien donor masih memiliki sejumlah ingatan akan organ yang kini dimilikinya. Maksudnya, organ itu masih membawa sifat-sifat dari pemilik sebelumnya.

Nah, inilah yang diangkat oleh Lurlene McDaniel. Mungkin kalau baca sinopsis bukunya, kita bakal mengira tokoh utamanya adalah Kassey dan Elowyn. Tapi justru Kassey dan Arabeth-lah tokoh utamanya. Bagaimana Kassey tercengang saat tahu Arabeth punya kesukaan yang sama seperti kesukaan Elowyn. Bagaimana Arabeth merasa seperti mendapatkan sahabat lama yang baru. Bagaimana penyembuhan diri setelah kehilangan. Dan bagaimana menerima satu sama lain sebagai jati diri mereka yang sesungguhnya.
Ini adalah kisah persahabatan, yang terjalin berkat organ jantung seseorang.

Sepertinya buku ini juga memberi pesan tentang baiknya donor organ. Tersirat dari percakapan kedua tokoh utama dengan ibunya.

Kassey dan ibunya:
“Apa Mom akan merelakanku begitu saja?” tanyaku.

“Kau ingin aku bagaimana?”

“Kurasa, aku ingin jadi donor juga.” “Itulah yang terbaik, kalau aku mati.”

Arabeth dan ibunya:

“Apa Mom akan melakukannya? Maksudku, bila aku sehat dan organ-organku dalam keadaan baik?”

“Dulu aku tak pernah memikirkannya.”

“Dan sekarang?”

“Aku melihat sendiri mendonorkan organ mengubah hidup kita. Melihat gadisku berkilau dan menarik napas dalam-dalam serta berlari-lari kecil ke lantai atas, dan juga menjadi normal. Mengubahku dalam memandang kehidupan.”




Judul: Heart to Heart
Penulis: Lurlene McDaniel
Penerbit: Laluna & Friends (imprint Mahdabooks)
Cetakan pertama Juli 2014
Harga: Rp. 48000










1 komentar :

  1. aku punya yg don't die my love *tapi belum dibaca* dan baca review ini sepertinya penulis adalah spesialis buku tragis :D

    BalasHapus