Sabtu, 14 Mei 2016

Talon - Julie Kagawa






Bisa dibilang Julie Kagawa adalah salah satu penulis yang karyanya saya tunggu-tunggu. Bukan karena cerita yang disuguhkannya, melainkan karena cara berceritanya yang indah. Julie Kagawa bertutur dengan gaya yang sederhana, mulus, lancar, dan mudah dicerna.

Buku Julie Kagawa yang hendak saya bahas kali ini adalah Talon. Setelah mengangkat cerita tentang legenda Peri di Iron Fey series, serta Vampire di Blood of Eden series, Julie Kagawa kini membahas tentang Naga.


Sekilas cerita:


Naga adalah makhluk yang hampir punah. Bangsa mereka diburu oleh organisasi pembunuh naga bernama Orde St. George. Oleh karena itu bangsa naga mendirikan organisasi bernama Talon agar naga tidak punah. Mereka melatih para hatchling atau naga muda agar siap menghadapi dunia. Ada tiga proses yang harus dihadapi para naga muda sebelum mereka mendapat posisi di Talon. Mengamati, Berasimilasi, Membaur. Setelah itu Talon akan memberi  mereka posisi; sebagai Viper (pembunuh), Basilisk (mata-mata), Bunglon (naga yang memiliki posisi berkuasa dalam masyarakat manusia), serta Gila (pengawal pejabat Talon).

Berkisah tentang dua anak kembar bernama Ember dan Dante Hill. Mereka berdua adalah naga. Setelah dididik selama 16 tahun di sebuah gurun terpencil, sekarang saatnya mereka memasuki tahap berbaur dengan manusia. Ember dan Dante mengambil rupa remaja rupawan berambut merah.

Mereka satu-satunya naga bersaudara. Karena naga dikenal hanya menetaskan satu telur, maka kehadiran mereka berdua bisa dianggap anomali.

Ember dan Dante berbaur dipindahkan ke pesisir California Selatan dan tinggal bersama orangtua angkat mereka, manusia yang dipekerjakan oleh Talon untuk mengawasi proses berbaur naga-naga muda.

Ember, adalah gadis yang menyukai kebebasan. Oleh karena itu dia sangat menikmati musim panasnya di pesisir, sebelum memasuki pendidikan sebenarnya dengan Talon. Ember dan Dante tak lama berteman dengan remaja-remaja lokal dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan mereka. Semuanya berjalan lancar sampai muncul naga pemberontak bernama Riley. Tak lama, Talon datang untuk mempercepat pendidikan mereka. Tentu saja Ember berang, karena liburannya diperpendek. Dia gusar, dan ingin sekali membangkang. Tetapi Dante selalu mengingatkan dia akan tujuan mereka. Kalau Ember dianggap tidak kompeten, dia akan dikirim kembali ke gurun, dan yang paling buruk adalah dipisahkan dengan saudara kembarnya.

Di sisi lain ada Garret Sebastian, prajurit sempurna Orde St. George. Dia dikenal hebat dalam membasmi naga, dan kali ini dia ditugaskan oleh atasannya untuk membaur bersama manusia biasa, demi mencari naga tidur (sebutan St. George untuk naga muda yang menyamar menjadi manusia). Ada laporan mengenai keberadaan naga tidur di pesisir California Selatan, tapi siapa naganya, mereka tidak dapat memastikan. Bagi Garret, tugas membaur ini adalah tugas sulit, karena seumur hidupnya dia hanya tahu membunuh, perasaan apa pun di dalam dirinya telah dikebaskan, kecuali hasrat membunuh. Dalam tugasnya mencari naga tidur bersama rekan satu timnya, Tristan, Garret berkenalan dengan Ember dan teman-temannya. Namun, pengalaman bersama Ember ini membuat Garret mulai mengenal perasaan-perasaan lain.

Lalu Riley sang naga pemberontak, siapa dia? Apa perannya? Talon tidak sesempurna yang dibayangkan naga dan manusia mana pun. Riley dulunya anggota Talon, yang terhebat. Namun dia menjadi desertir karena tahu betapa busuknya Talon. Selama mengembara menjadi pemberontak, Riley juga membantu naga-naga muda untuk bebas, mencari jati diri mereka. Itulah tujuan dia mendekati Ember dan Dante.


Review:

Talon tidak seseru yang saya bayangkan. Setelah baca Iron Fey, saya pikir kisah naga ini akan mengambil tempat di dunia lain, bukan dunia manusia. Tapi ternyata di dunia manusia. Agak membosankan di bagian awal, karena harus berjibaku dengan emosi-emosi Ember yang menurut saya bukan nagawi, melainkan manusiawi. Tak suka diatur-atur, cepat kesal, dan maunya bebas. Mirip remaja di mana pun, saya bilang.

Konflik dua kubu di sini juga termasuk bukan yang tidak biasa. Satu organisasi yang ingin melestarikan kaum mereka, satu lagi organisasi yang menganggap kaum yang dihadapi mereka adalah monster. Tapi mana yang salah dan benar, itu tergantung perspektif bukan? Kita hidup dalam dunia yang membutuhkan berbagai perspektif untuk menentukan benar dan salah. Itulah yang menjadi pemicu saya untuk penasaran selama membacanya. Dua perspektif berbeda, Prajurit Orde yang didoktrin bahwa naga monster, mendapati bahwa tidak semua naga adalah makhluk buas yang layak dibunuh. Di sisi lain, ada naga muda yang merasa bahwa organisasi yang selama ini dianggapnya pelindung, ternyata menyimpan sesuatu yang kelam, belum lagi ada sang pemberontak, tak mungkin sosoknya muncul kalau bukan ada sebab-musabab lain dalam organisasi. Akankah mereka menemukan titik tengah?

Untuk kisah cintanya sendiri, Ember lumayan agak galau. Karena sebagai manusia, dia naksir Garret, sebagai naga, dia naksir Riley. Lalu yang mana yang dipilihnya?

Yang mana pun pilihan dia, saya kasih tiga semburan api untuk Talon.

Cover:
Cover aslinya bagus banget. Bersisik. Tapi versi terjemahannya juga cantik, sudah diterbitkan oleh Mizan Fantasi bulan lalu.





versi Mizan Fantasi